
Gambar dibuat oleh ChatGPT
Bukan Mitos, tetapi Perlu Dipahami dengan Benar
Pernahkah Anda membaca kalimat, “Duduk adalah kebiasaan baru yang sama berbahayanya dengan merokok”? Istilah sitting is the new smoking telah beredar luas di media sosial, seminar kesehatan, bahkan lingkungan kerja. Kalimat tersebut memang berhasil menarik perhatian, tetapi apakah benar duduk terlalu lama memiliki bahaya yang setara dengan merokok? Jawabannya adalah tidak sepenuhnya benar. Para ahli menegaskan bahwa duduk terlalu lama memang meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Namun, tingkat bahayanya tidak dapat disamakan secara langsung dengan merokok, yang hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Mengapa Duduk Terlalu Lama Menjadi Masalah?
Perubahan gaya hidup membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk. Bekerja di depan komputer, mengikuti rapat daring, berkendara, menonton televisi, hingga bermain gawai menyebabkan seseorang bisa duduk selama 8–10 jam, bahkan lebih, setiap hari. Ketika tubuh berada dalam posisi duduk dalam waktu lama, aktivitas otot menurun. Akibatnya, pembakaran kalori melambat, sirkulasi darah berkurang, sensitivitas insulin menurun, dan metabolisme lemak menjadi kurang optimal. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, berbagai gangguan kesehatan dapat muncul secara perlahan.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan duduk terlalu lama berkaitan dengan meningkatnya risiko:
- Penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Diabetes melitus tipe 2.
- Obesitas.
- Tekanan darah tinggi.
- Gangguan metabolisme.
- Nyeri leher, bahu, dan punggung bawah.
- Penurunan kebugaran otot.
- Risiko kematian dini apabila disertai kurangnya aktivitas fisik.
- Risiko tersebut semakin besar apabila seseorang jarang berolahraga dan hampir seluruh aktivitas hariannya dilakukan sambil duduk.
Lalu Mengapa Sering Dibandingkan dengan Merokok?
Ungkapan “sitting is the new smoking” sebenarnya merupakan bentuk kampanye kesehatan masyarakat agar orang lebih sadar terhadap bahaya gaya hidup sedentari (kurang bergerak). Sayangnya, banyak orang kemudian memahami kalimat tersebut secara harfiah. Padahal, penelitian yang membandingkan kedua risiko menunjukkan bahwa merokok tetap jauh lebih berbahaya. Perokok aktif memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok, sedangkan peningkatan risiko akibat duduk terlalu lama memang ada, tetapi tidak sebesar dampak merokok. Oleh karena itu, para peneliti tidak menyarankan kedua perilaku tersebut dianggap setara. Dengan kata lain, duduk terlalu lama berbahaya, tetapi bukan berarti bahayanya sama dengan merokok.
Apakah Olahraga Sudah Cukup?
Banyak orang merasa aman karena rutin berolahraga selama 30 menit setiap hari. Sayangnya, hal tersebut belum tentu menghilangkan seluruh dampak buruk dari duduk terlalu lama.Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa olahraga memang dapat mengurangi sebagian besar risiko kesehatan akibat duduk dalam waktu lama, terutama bila seseorang melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat sekitar 60–75 menit per hari. Namun, olahraga tidak sepenuhnya menghapus dampak fisiologis dari duduk tanpa jeda, seperti menurunnya aliran darah dan aktivitas otot. Artinya, seseorang tetap perlu mengurangi durasi duduk selain rutin berolahraga. Anda termasuk dalam kelompok yang berisiko apabila:
- Duduk lebih dari delapan jam setiap hari.
- Bekerja di depan komputer hampir sepanjang hari.
- Jarang berdiri ketika bekerja.
- Menggunakan kendaraan untuk hampir seluruh aktivitas.
- Setelah bekerja masih menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau bermain gawai.
- Jika kondisi tersebut berlangsung setiap hari, sudah saatnya mulai mengubah kebiasaan.
Cara Sederhana Mengurangi Risiko
Kabar baiknya, perubahan kecil dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Berdiri atau berjalan selama 2–5 menit setiap 30–60 menit bekerja.
- Gunakan tangga dibandingkan lift jika memungkinkan.
- Berjalan saat menerima telepon.
- Lakukan peregangan ringan pada leher, bahu, punggung, dan tungkai.
- Tempatkan printer atau tempat minum agak jauh agar tubuh lebih sering bergerak.
- Luangkan waktu berolahraga minimal 150 menit setiap minggu sesuai rekomendasi aktivitas fisik untuk orang dewasa.
- Yang paling penting adalah jangan duduk terus-menerus tanpa jeda.
Bergerak Lebih Banyak, Hidup Lebih Sehat
Di era digital, duduk memang sulit dihindari. Namun, tubuh manusia diciptakan untuk bergerak, bukan hanya diam di depan layar. Daripada memperdebatkan apakah duduk sama berbahayanya dengan merokok, yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan aktif setiap hari. Berdiri sejenak, berjalan beberapa langkah, atau melakukan peregangan ringan mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu menjaga kesehatan jantung, metabolisme, otot, hingga kualitas hidup.
Ingat, bukan hanya olahraga yang penting, tetapi juga seberapa sering Anda bergerak sepanjang hari.[Ririn]




